««•»»وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ
««•»»
wajaauu 'alaa qamiishihi bidamin kadzibin qaala bal sawwalat lakum anfusukum amran fashabrun jamiilun waallaahu almusta'aanu 'alaa maa tashifuuna
««•»»
Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku {746}). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
{746} Maksudnya: dalam hal ini Ya`qub memilih kesabaran yang baik, setelah mendengar cerita yang menyedihkan itu.
««•»»And they produced sham blood on his shirt. He said, ‘Rather your souls have made a matter seem decorous to you. Yet patience is graceful, and Allah is my resort against what you allege.’
««•»»
Untuk memperkuat kebenaran cerita itu mereka membawa baju Yusuf yang telah berlumuran darah dan mereka berkata kepada ayahnya inilah bukti kebenaran kami, padahal darah yang melekat pada baju itu bukanlah darah Yusuf.
Yakub melihat dan memperhatikan baju itu. Didapatinya baju itu hanya berlumuran darah saja, tetapi masih utuh tak ada yang robek dan tak ada pula yang berlubang-lubang bekas cakaran dan gigitan serigala, tetapi saudara-saudaranya inilah yang telah berbuat aniaya terhadapnya, lalu ia berkata kepada mereka: "Aku tidak percaya sama sekali akan ceritamu yang dibuat-buat itu dan aku yakin bahwa jiwamu yang jahat dan kotor telah mempengaruhi dan mendorongmu untuk melakukan penganiayaan terhadap saudaramu sendiri.
Tetapi apalah daya seorang ayah yang telah tua terhadap anak-anaknya yang sudah besar dan kuat." Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali memendam rasa amarah dan menekan perasaan hatinya yang amat kecewa dan sedih itu. Kini anaknya yang paling dicintainya dan kepadanya dia selalu menggantungkan harapan dan idaman hati sudah tak ada lagi di sampingnya karena tindakan anak-anaknya sendiri.
Apakah dia akan menuntut balas ataukah dia akan menyelidiki sendiri ke mana anaknya itu sebenarnya sedang dia tidak berdaya lagi.
Dalam keadaan seperti itu tidak ada yang lebih baik baginya kecuali bersabar dan tawakal sepenuhnya kepada Allah. Jalan inilah yang dipilih Yakub meskipun ia tetap sedih tetap menangis atas kehilangan jantung hatinya. Ia tidak percaya sama sekali akan cerita anak-anaknya karena itu ia berserah diri kepada Allah dan selalu memohonkan pertolongan-Nya agar anaknya Yusuf diselamatkan dari segala marabahaya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Mereka datang membawa baju gamisnya) lafal `alaa qamiishihi beri'rab mahal nashab karena menjadi zharaf. Artinya yang berlumuran padanya (dengan darah palsu) darah yang bukan darah Nabi Yusuf; hal ini mereka lakukan dengan menyembelih seekor kambing, kemudian mereka lumurkan darahnya pada baju gamis Nabi Yusuf, akan tetapi mereka lupa merobek-robeknya.
Lalu mereka menghadap kepada ayahnya seraya berkata, "Sesungguhnya ini adalah darah Yusuf." (Yakub berkata) sewaktu ia melihat baju Yusuf dalam keadaan utuh dan ia mengetahui bahwa mereka berdusta dalam hal ini
("Sebenarnya telah menghiasi) menganggap baik (diri kalian suatu perbuatan yang buruk) kemudian kalian mengerjakannya (maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku) kesabaran yang tidak disertai rasa kaget dan gelisah. Lafal fashabrun jamiil ini adalah mubtada sedangkan khabarnya tidak disebutkan, yaitu amri yang artinya adalah kesabaranku.
(Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya) hanya Allahlah yang diminta pertolongan-Nya (terhadap apa yang kalian ceritakan.") apa yang kalian kisahkan tentang perkara Yusuf ini.
««•»»
And they came with false blood on his shirt (‘alā qamīsihi has the status of an accusative [of the verb], because it is an adverbial qualifier, meaning fawqa [qamīsihi]): they slaughtered a lamb and dabbed it [his shirt] with its blood — but they forgot to tear it [the shirt] — and they said that it was his blood. He, Jacob, said, when he saw that it [the shirt] was undamaged and realised that they were lying: ‘Nay, but your souls have beguiled you into something, and so you did it to him. Yet comely patience!, without any anxiety! (fa-sabrun jamīlun is the predicate of a missing subject such as amrī, ‘my course]’). And God is the One Whose succour is sought in that [predicament] which you describe’, that which you mention of Joseph’s affair.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 17]•[AYAT 19]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=12&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#12:18
And they came with false blood on his shirt (‘alā qamīsihi has the status of an accusative [of the verb], because it is an adverbial qualifier, meaning fawqa [qamīsihi]): they slaughtered a lamb and dabbed it [his shirt] with its blood — but they forgot to tear it [the shirt] — and they said that it was his blood. He, Jacob, said, when he saw that it [the shirt] was undamaged and realised that they were lying: ‘Nay, but your souls have beguiled you into something, and so you did it to him. Yet comely patience!, without any anxiety! (fa-sabrun jamīlun is the predicate of a missing subject such as amrī, ‘my course]’). And God is the One Whose succour is sought in that [predicament] which you describe’, that which you mention of Joseph’s affair.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 17]•[AYAT 19]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of111
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=12&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#12:18

Tidak ada komentar:
Posting Komentar